Senin, 06 Juni 2011

Sejarah Migas

Bagaimana terjadinya minyak dan gas
bumi ?

Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu:

1. Ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan
terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.
        2. Adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke
“bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone
yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung
hidrokarbon tersebut.
        3. Adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang
tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya
gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus
menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi
jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang
impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa
bergerak kemana-mana lagi.
Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya
dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari
65oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada
suhu moderat, dari 107 ke 177oC.
Apa saja komponen-komponen pembentuk minyak bumi ?
Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya
tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik
dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Apakah ada perbedaan dari jenis-jenis minyak bumi ?
Ada 4 macam yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu:young-shallow,
old-shallow, young-deepdan old-deep.Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam
(sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya
tinggi.Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai
paraffin yang lebih pendek. Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan,
titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat
teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang
dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat
menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi ?
Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari
50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan
diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi
dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.
Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari
organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu
organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur,
membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan
(sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu
selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.
Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk
mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi
molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang
semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik,
lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung
minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur
sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta
dan 270-juta tahun.
Bagaimana caranya menemukan minyak bumi ?
Ada berbagai macam cara: observasi geologi, survei gravitasi, survei magnetik, survei seismik,
membor sumur uji, atau dengan educated guess dan faktor keberuntungan.
Survei gravitasi: metode ini mengukur variasi medan gravitasi bumi yang
disebabkan perbedaan densitas material di struktur geologi kulit bumi.
Survei magnetik: metode ini mengukur variasi medan magnetik bumi yang
disebabkan perbedaan properti magnetik dari bebatuan di bawah
permukaan. Survei magnetik dan gravitasi biasanya dilakukan di wilayah
yang luas seperti misalnya suatu cekungan (basin).
Survei seismik menggunakan gelombang kejut (shock-wave) buatan yang
diarahkan untuk melalui bebatuan menuju target reservoir dan daerah
sekitarnya. Oleh berbagai lapisan material di bawah tanah, gelombang kejut
ini akan dipantulkan ke permukaan dan ditangkap oleh alat receivers sebagai
pulsa tekanan (oleh hydrophone di daerah perairan) atau sebagai percepatan
(oleh geophone di darat). Sinyal pantulan ini lalu diproses secara digital
menjadi sebuah peta akustik bawah permukaan untuk kemudian dapat
diinterpretasikan.
Aplikasi metode seismik:
1. Tahap eksplorasi: untuk menentukan struktur dan stratigrafi endapan dimana
sumur nanti akan digali.
2. Tahap penilaian dan pengembangan: untuk mengestimasi volume cadangan
hidrokarbon dan untuk menyusun rencana pengembangan yang paling baik.
3. Pada fase produksi: untuk memonitor kondisi reservoir, seperti menganalisis
kontak antar fluida reservoir (gas-minyak-air), distribusi fluida dan perubahan
tekanan reservoir.
Setelah kita yakin telah menemukan minyak, apa selanjutnya ?
Setelah mengevaluasi reservoir, selanjutnya tahap mengembangkan reservoir. Yang pertama
dilakukan adalah membangun sumur (well-construction) meliputi pemboran (drilling),
memasang tubular sumur (casing) dan penyemenan (cementing). Lalu proses completion untuk
membuat sumur siap digunakan. Proses ini meliputi perforasi yaitu pelubangan dinding sumur;
pemasangan seluruh pipa-pipa dan katup produksi beserta asesorinya untuk mengalirkan minyak
dan gas ke permukaan; pemasangan kepala sumur (wellhead atau chrismast tree) di permukaan;
pemasangan berbagai peralatan keselamatan, pemasangan pompa kalau diperlukan, dsb. Jika
dibutuhkan, metode stimulasi juga dilakukan dalam fase ini. Selanjutnya well-evaluation untuk
mengevaluasi kondisi sumur dan formasi di dalam sumur. Teknik yang paling umum dinamakan
logging yang dapat dilakukan pada saat sumur masih dibor ataupun sumurnya sudah jadi.
Ada berapa macam jenis sumur ?
Di dunia perminyakan umumnya dikenal tiga macam jenis sumur:
        1. Sumur eksplorasi (sering disebut juga wildcat) yaitu sumur yang dibor untuk
mentukan apakah terdapat minyak atau gas di suatu tempat yang sama
sekali baru.
        2. Jika sumur eksplorasi menemukan minyak atau gas, maka beberapa sumur konfirmasi (confirmation well) akan dibor di beberapa tempat yang berbeda di sekitarnya untuk memastikan apakah kandungan hidrokarbonnya cukup untuk dikembangkan.
        3. Sumur pengembangan (development well) adalah sumur yang dibor di suatu lapangan minyak yang telah eksis.
Tujuannya untuk mengambil hidrokarbon semaksimal mungkin dari lapangan tersebut.
Istilah persumuran lainnya:
1.Sumur produksi: sumur yang menghasilkan hidrokarbon, baik minyak, gas
ataupun keduanya. Aliran fluida dari bawah ke atas.
2.Sumur injeksi: sumur untuk menginjeksikan fluida tertentu ke dalam
formasi (lihat Enhanced Oil Recovery di bagian akhir). Aliran fluida dari atas
ke bawah.
3.Sumur vertikal: sumur yang bentuknya lurus dan vertikal.
4.Sumur berarah (deviated well, directional well): sumur yang bentuk
geometrinya tidak lurus vertikal, bisa berbentuk huruf S, J atau L.
5.Sumur horisontal: sumur dimana ada bagiannya yang berbentuk
horisontal. Merupakan bagian dari sumur berarah.
Apakah rig ? Apa saja jenis-jenisnya ?
Rig adalah serangkaian peralatan khusus yang digunakan untuk membor sumur atau mengakses
sumur. Ciri utama rig adalah adanya menara yang terbuat dari baja yang digunakan untuk
menaik-turunkan pipa-pipa tubular sumur.
Umumnya, rig dikategorikan menjadi dua macam menurut tempat beroperasinya:
1. Rig darat (land-rig): beroperasi di darat.
2. Rig laut (offshore-rig): beroperasi di atas permukaan air (laut, sungai, rawa-
rawa, danau atau delta sungai).
Ada bermacam-macam offshore-rig yang digolongkan berdasarkan kedalaman air:
1. Swamp barge: kedalaman air maksimal 7m saja. Sangat umum dipakai di
daerah rawa-rawa atau delta sungai.
2. Tender barge: mirip swamp barge tetapi di pakai di perairan yang lebih
dalam.
        3. Jackup rig: platform yang dapat mengapung dan mempunyai tiga atau empat
“kaki” yang dapat dinaik-turunkan. Untuk dapat dioperasikan, semua kakinya
harus diturunkan sampai menginjak dasar laut. Terus badan rig akan diangkat
sampai di atas permukaan air sehingga bentuknya menjadi semacam
platform tetap. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semua
kakinya haruslah dinaikan terlebih dahulu sehingga badan rig mengapung di
atas permukaan air. Lalu rig ini ditarik menggunakan beberapa kapal tarik ke
lokasi yang dituju. Kedalaman operasi rig jackup adalah dari 5m sampai
200m.
        4. Drilling jacket: platform struktur baja, umumnya berukuran kecil dan cocok
dipakai di laut tenang dan dangkal. Sering dikombinasikan dengan rig jackup
atau tender barge.
        5. Semi-submersible rig: sering hanya disebut “semis” merupakan rig jenis
mengapung. Rig ini “diikat” ke dasar laut menggunakan tali mooring dan
jangkar agar posisinya tetap di permukaan. Dengan menggunakan thruster,
yaitu semacam baling-baling di sekelilingnya, rig semis mampu mengatur
posisinya secara dinamis. Rig semis sering digunakan jika lautnya terlalu
dalam untuk rig jackup. Karena karakternya yang sangat stabil, rig ini juga
popular dipakai di daerah laut berombak besar dan bercuaca buruk.
6. Drill ship: prinsipnya menaruh rig di atas sebuah kapal laut. Sangat cocok
dipakai di daerah laut dalam. Posisi kapal dikontrol oleh sistem thruster
berpengendali komputer. Dapat bergerak sendiri dan daya muatnya yang
paling banyak membuatnya sering dipakai di daerah terpencil atau jauh dari
darat.
Dari fungsinya, rig dapat digolongkan menjadi dua macam:
1. Drilling rig: rig yang dipakai untuk membor sumur, baik sumur baru, cabang
sumur baru maupun memperdalam sumur lama.
2. Workover rig: fungsinya untuk melakukan sesuatu terhadap sumur yang telah
ada, misalnya untuk perawatan, perbaikan, penutupan, dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar